Kisah Pilu Pedagang Cobek yang Dibui Padahal Tidak Melakukan Kesalahan Apapun

ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280


BeritavideoFB - Pengapnya sel penjara Rutan Jambe, Kabupaten Tanggerang masih membekas perih di benak penjual cobek ini. Peristiwa penangkapannya pada 20 April 2016 silam, merupakan catatan buruk sepanjang hidupnya.

Tajudin mulai menghuni penjara sejak 20 April 2016 malam. Kala itu, Tajudin sedang menjual cobek di Jalan Raya Perum Graha Bintaro, Kota Tangerang Selatan.

Aparat dari Polres Tangerang Selatan menuduh Tajudin mengeksploitasi anak yaitu mempekerjakan Cepi (14) dan Dendi untuk ikut membantu menjual cobek dagangannya. Tanpa ba bi bu lagi, Tajudin dijebloskan ke penjara.

Tidak tanggung-tanggung, polisi menjerat Tajudin dengan UU Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan ancaman 15 tahun penjara. Padahal, tidak setiap hari dagangan Tajudin laku terjual. Kalau pun ada yang membeli, keuntungan setiap cobek juga tidak terlalu besar. Dalam sebulan, rata-rata Tajudin hanya mendapatkan penghasilan Rp 500 ribu per bulan.


Setelah melalui serangkaian proses yang cukup lama, berkas masuk ke pengadilan.

Jaksa mengamini Tajudin memperdagangkan orang dan menuntut 3 tahun penjara. Tidak hanya itu, jaksa juga meminta Tajudin membayar denda sebesar Rp 120 juta, harga yang sangat besar dibandingkan penghasilannya Rp 500 ribu per bulan.

LBH Keadilan membanting tulang membela Tajudin. Serangkaian argumen dilancarkan untuk mematahkan tuntutan jaksa. Gayung bersambut. PN Tangerang mengamini pembelaan Tajudin dan kuasa hukumnya."Melepaskan terdakwa dari dakwaan. Secara sosiologis, anak-anak sudah biasa bekerja membantu orang tuanya," ucap majelis hakim dengan suara bulat.

Meski akhirnya dibebaskan, Tajudin belum bisa menghapus trauma selama sembilan bulan mendekam dibui tanpa dosa. Pria penjual cobek ini kini menuntut keadilan dari pemerintah."Saya tulang punggung satu satunya, di mana itu saya minta keadilan dari pemerintah. Orang benar pasti ada balasannya," kata Tajudin setelah dibebaskan di depan Rutan Kelas I Tangerang, Sabtu (14/1/2017).Tajudin mengungkapkan ingin lekas berkumpul kembali dengan keluarganya di kampung halaman. "Pulang kampung dulu. Soalnya, sudah ketakutan banget.


Tajudin bergegas pulang ke Padalarang, Jawa Barat, berkumpul bersama keluarga.

Rumah sederhana Tajudin terletak di Kampung Pojok, Kelurahan Jayamekar, Kecamatan Padalarang, Bandung Barat. Ia tinggal bersama istri dan ketiga anaknya. Termasuk si bungsu yang lahir saat Tajudin meringkuk di penjara.

Rumah itu sangatlah sederhana. Dibuat dari papan dengan model panggung. Dinding berupa anyaman bambu yang dicat putih, lusuh warnanya di sana-sini. Di bawah rumah panggung dijadikan tempat untuk beternak ayam ala kadarnya.

Kasus Tajudin menandakan ketidakprofesionalan aparat penegak hukum. Oleh sebab itu, negara harus meminta maaf dan memberikan ganti rugi yang sepadan.

Tajudin dijebloskan ke penjara pada 20 April 2016 dengan tuduhan mengeksploitasi anak. Namun tuduhan itu tak terbuki karena dalam masyarakat membantu orang tua adalah sudah biasa.

Kasus Tajudin menunjukkan bahwa tidak serta merta dengan adanya pengakuan negara Indonesia adalah negara hukum sebagaimana dinyatakan dalam UUD 1945. Tapi, pernyataan negara Indonesia adalah hukum dalam konstitusi yaitu UUD 1945 barulah menjadikan Indonesia sebagai negara hukum formil, bukan menjadi negara hukum materiil.

Di sisi lain, jaksa dari Kejaksaan Negeri Tangerang memilih mengajukan kasasi atas putusan PN Tangerang itu. Jaksa berkeyakinan bila Tajudin tetap bersalah dan harus kembali dipenjara.

ADSENSE 336 x 280 dan ADSENSE Link Ads 200 x 90

0 Response to "Kisah Pilu Pedagang Cobek yang Dibui Padahal Tidak Melakukan Kesalahan Apapun"

Post a Comment